Latar Belakang Konflik PBNU
Belakangan ini, internal PBNU sedang bergolak. Tuduhan serius dialamatkan kepada Yahya Cholil Staquf — atau “Gus Yahya” — selaku Ketua Umum. Tuduhan itu terkait keputusan organisasi: dalam rapat Harian Syuriyah 20 November 2025, disebut bahwa kehadiran narasumber yang diduga berafiliasi “jaringan Zionisme Internasional” dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional NU (AKN NU) melanggar nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. TvOne News+2https://rm.id/+2
Hasil rapat itu kemudian diklaim sebagai dasar pemecatan Gus Yahya — tertuang dalam surat edaran yang menyatakan bahwa ia “tidak lagi menjabat” mulai 26 November 2025. TvOne News+2Seru.co.id+2
Sekelompok tokoh di PBNU menyebut keputusan ini sah — sementara Gus Yahya dan pendukungnya menilai surat tersebut cacat prosedural (termasuk soal stempel administrasi dan penandatanganan) dan hanya Muktamar yang bisa melakukan pemberhentian definitif. Seru.co.id+2Jawa Pos+2
Konflik semacam ini bukan semata soal struktur organisasi; ini memunculkan pertanyaan soal marwah, legitimasi kepemimpinan, dan loyalitas ulama. Sejak itu, suasana di kalangan nahdliyin makin tegang — rumor, dukungan, penolakan, loyalitas wilayah, alumni, semua ikut “dikerahkan”.
🕌 Gus Yahya Sowan ke Pondok Pesantren Lirboyo — Pemenuhan Panggilan & Upaya Islah
Merespons situasi tersebut: hari ini Gus Yahya memenuhi panggilan untuk sowan ke Ponpes Lirboyo, Kediri — pusat beberapa ulama sepuh dan banyak alumni NU. CNN Indonesia+2Jawa Pos+2
Dalam kunjungan itu, Gus Yahya bersama beberapa pengurus PBNU (termasuk Wakil Ketua Umum & Sekjen) menemui para masyayikh Lirboyo, seperti KH Anwar Manshur dan KH Abdullah Kafabihi Mahrus. Jawa Pos+2https://rm.id/+2
Menurut pernyataannya, tujuan kunjungan bukan untuk debat jabatan, tapi untuk meminta doa, arahan, dan bimbingan agar marwah organisasi tetap terjaga — serta menempuh jalan islah (rekonsiliasi) bagi seluruh pihak. Jawa Pos+2detiknews+2
Gus Yahya juga menegaskan bahwa “surat pemecatan” yang mengklaim dirinya dicopot tidak sah secara prosedural — sehingga ia tetap menganggap dirinya sah sebagai Ketum. Dia menyebut proses pemberhentian tidak sesuai AD/ART PBNU, dan bahwa hanya forum Muktamar-lah yang berwenang. Seru.co.id+2TvOne News+2
🔥 Dampak: PBNU Makin Panas
Kunjungan ke Lirboyo itu tak cuma soal silaturahmi — tapi bagian dari upaya legitimasi ulang posisi Gus Yahya. Tapi hasilnya: dinamika organisasi makin terbuka, kompas internal pecah, dan banyak pihak mulai memposisikan diri. Berikut implikasinya:
-
Banyak alumni dan pengurus wilayah (PWNU) mulai menyuarakan dukungan agar konflik diselesaikan secara terhormat — lewat musyawarah, bukan keputusan sepihak. https://rm.id/+2NU Online+2
-
Para kiai sepuh Lirboyo menyerukan agar seluruh alumni tidak larut dalam “perdebatan kelompok” — mereka meminta netralitas, kedewasaan, dan mengutamakan persatuan NU. https://rm.id/+2NU Online+2
-
Tapi bagi pendukung pemecatan, wacana transisi kepemimpinan — termasuk opsi pengganti atau Penjabat (PJ) ketum — tetap mengemuka. Itu membuat suasana internal makin tense dan banyak spekulasi publik soal “siapa yang benar-benar berwenang” memimpin PBNU sekarang. TvOne News+2Facebook+2
⚠️ Kenapa Ini Penting — Bukan Sekadar Drama Internal
Konflik di organisasi seperti PBNU — yang punya basis massa luas dan peran sosial keagamaan besar — bukan perkara kecil. Beberapa konsekuensi nyata:
-
Risiko fragmentasi: Jika konflik berlarut, loyalitas kader dan ulama bisa terbagi — dampaknya ke wajah organisasi di tengah masyarakat luas bisa menurun.
-
Kehilangan kepercayaan publik: NU selama ini dipandang sebagai representasi tradisi Islam moderat; kalau internalnya gaduh, bisa mempengaruhi persepsi publik terhadap NU secara keseluruhan.
-
Potensi stagnasi: Saat energi organisasi tersedot untuk urusan internal, agenda besar — dakwah, sosial, pendidikan, advokasi — bisa terabaikan.
📌 Kesimpulan: Di Bawah Sorotan — PBNU & Gus Yahya di Persimpangan
Hari ini, ketika Gus Yahya hadir di Lirboyo, itu lebih dari sekadar sowan. Itu langkah simbolik — upaya mempertahankan posisi, merajut legitimasi, mencari restu ulama sepuh. Tapi di sisi lain, ini juga menunjukkan bahwa PBNU sedang diuji: antara prosedur formal, kekinian, dan tradisi ulama; antara loyalitas struktural dan legitimasi moral-agama.